Pelabuhan Perikanan Binuangeun di Perbatasan Lebak–Pandeglang, Potensi Besar di Tengah Ketimpangan Sosial

Lebak – Kawasan perbatasan Kabupaten Lebak dan Pandeglang, tepatnya di wilayah pesisir selatan Banten, menyimpan potensi kelautan yang besar. Salah satunya adalah Pelabuhan Perikanan Binuangeun yang dikenal sebagai salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Banten Selatan. Setiap hari, puluhan hingga ratusan kapal nelayan bersandar membawa hasil tangkapan dari Samudera Hindia.

Secara geografis, Binuangeun berada di wilayah Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, dan menjadi titik strategis aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Dari udara, kawasan ini tampak padat dengan permukiman warga yang berjejer hingga ke bibir pantai dan muara sungai, berdampingan dengan deretan kapal nelayan yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

Namun di balik geliat aktivitas perikanan yang terlihat ramai, masih tersimpan persoalan ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Banyak warga Binuangeun yang hingga kini masih menggantungkan kehidupan sepenuhnya pada sektor perikanan tangkap. Ketergantungan terhadap hasil laut membuat ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi musim, cuaca, dan kondisi gelombang.

“Kalau musim angin barat atau ombak besar, banyak nelayan tidak melaut. Otomatis penghasilan menurun drastis,” ujar salah seorang warga setempat.

Minimnya diversifikasi sumber pendapatan menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial di kawasan tersebut. Ketika hasil tangkapan melimpah, roda ekonomi berputar cukup baik. Namun saat paceklik, banyak keluarga nelayan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, sejumlah warga menilai fasilitas pendukung dari pemerintah daerah masih belum memadai. Ketersediaan sarana tambat kapal, tempat pelelangan ikan (TPI), cold storage, hingga akses permodalan dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan nelayan skala kecil. Kondisi ini membuat sebagian nelayan masih berada dalam lingkaran ekonomi tradisional dengan margin keuntungan yang terbatas.

Padahal, sebagai salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Banten Selatan, Binuangeun memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat ekonomi maritim terpadu. Penguatan infrastruktur pelabuhan, peningkatan kualitas fasilitas penunjang, serta pelatihan pengolahan hasil laut diyakini dapat mendorong nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Pengamat ekonomi pesisir menilai, intervensi kebijakan yang tepat dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mengurangi ketimpangan sosial di kawasan ini. Tidak hanya pembangunan fisik pelabuhan, tetapi juga program pemberdayaan masyarakat, akses pendidikan, serta pengembangan usaha berbasis kelautan dan pariwisata pesisir.

Dengan potensi sumber daya laut yang melimpah, masyarakat Binuangeun sebenarnya memiliki modal besar untuk berkembang. Tantangannya kini adalah bagaimana memastikan potensi tersebut diiringi dengan pemerataan kesejahteraan, sehingga kemajuan pelabuhan tidak hanya terlihat dari ramainya kapal yang bersandar, tetapi juga dari meningkatnya taraf hidup warganya.

Pen : Imansetiawan

Lebih baru Lebih lama