LEBAK – Di tengah kentalnya nuansa Islami di wilayah Banten Selatan, sebuah potret toleransi beragama yang unik tersaji di Desa Cikotok, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Meski mayoritas penduduknya beragama Islam, kehadiran dua rumah ibadah umat Kristiani.Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) "Bukit Salaka" dan Gereja Katolik St. Josef menjadi saksi bisu sejarah panjang peradaban modern yang pernah lahir di sana.
Keberadaan gereja-gereja ini tidak lepas dari masa jaya Cikotok sebagai pusat tambang emas terbesar di Indonesia sejak era kolonial Belanda. Tambang yang kemudian dikelola oleh PT Antam ini menarik ribuan pekerja dari berbagai pelosok negeri, terutama dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, hingga ekspatriat mancanegara.
Pusat Akulturasi dan Keragaman Pekerja
Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1940-an, Cikotok telah menjadi magnet bagi kaum pendatang. Banyaknya pekerja non-muslim yang menetap membuat kebutuhan akan fasilitas ibadah menjadi prioritas. Bahkan, catatan sejarah menunjukkan adanya pendeta yang lahir di Cikotok pada tahun 1946, menandakan komunitas Nasrani telah mengakar kuat di sana sejak dulu.
"Dahulu, para pekerja tambang mayoritas pendatang. Ada yang dari Jawa hingga mantan pekerja Romusha era Jepang. Keragaman inilah yang membuat fasilitas di Cikotok sangat lengkap, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga rumah ibadah berbagai agama," ungkap seorang pemerhati sejarah lokal.
Menariknya, para pekerja lokal baru mulai banyak terlibat saat produksi tambang Cirotan dibuka sekitar tahun 1975. Sebelumnya, faktor upah yang tergolong kecil pada masa itu disinyalir menjadi alasan warga setempat kurang berminat menjadi juru tambang.
Eksodus ke Pongkor dan Warisan Toleransi
Seiring dengan menurunnya kadar emas dan dibukanya Tambang Pongkor di Bogor pada tahun 1992, terjadi eksodus besar-besaran pekerja muda beserta keluarga mereka. Banyak warga Nasrani yang mengikuti perpindahan tugas tersebut, sementara sebagian lainnya kembali ke kota asal seperti Bandung, Yogyakarta, atau Rangkasbitung.
Meski populasi jemaah muda berkurang, Gereja di Cikotok tetap bertahan melayani para lansia yang memilih menetap permanen, anak cucu pekerja tambang, hingga pendatang baru yang bekerja di wilayah Bayah dan Cilograng. Hingga masa pandemi COVID-19 tahun 2020, gereja tersebut dilaporkan masih beroperasi secara normal.
Simbol Peradaban Modern di Pelosok Banten
Cikotok bukan sekadar kota tambang; ia adalah cermin peradaban modern di daerah terpencil pada masanya. Sebelum tahun 1990-an, Cikotok memiliki fasilitas hiburan dan sosial yang setara dengan kota besar. Di balik itu semua, nilai yang paling berharga adalah kerukunan antarumat beragama yang terjaga selama puluhan tahun.
Meskipun saat ini jemaahnya didominasi oleh kalangan lansia, kehadiran GPIB Bukit Salaka dan Gereja St. Josef tetap menjadi monumen sejarah bahwa di pelosok Lebak, emas bukan satu-satunya yang berkilau, melainkan juga rasa saling menghargai di tengah perbedaan yang tetap abadi hingga kini.


